"KERUNTUHAN JURNALISME"
Karya : Dudi Sabil Iskandar
Nama : Leriza Dini Wildan
NIM : 1571506425
Kelompok : YJ
Dosen : Dudi Iskandar
NIM : 1571506425
Kelompok : YJ
Dosen : Dudi Iskandar
BAB I
Indikator Keruntuhan Jurnalisme
BAB II
Penyebab Keruntuhan Jurnalisme
BAB III
Kemunculan Jurnalisme Baru
Indikator Keruntuhan Jurnalisme
A. Jurnalisme Bias
Harus diakui kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau yang diakrab disapa Jokowi, unik dan fenomenal. Unik karena gaya kepemimpinan yang ditampilkan berbeda dengan mayoritas kepemimpinan yang ditampilkan berbeda dengan mayoritas kepemimpinan yang ada mulai tingkat presiden, gubernur, walikota, hingga bupati.
Jokowi merupakan figur pemimpin yang rela berkotor dengan lumpur. Ia bukan sosok yang berada di menara gading, tidak terpengaruh riuhnya wacana lisan dan omong besar seperti pejabat publik lain. Pun tidak menyampaikannya dalam bentuk orasi dan tulisan, tetapi terjun langsung berkotor dengan lumpur, menyapa rakyat, Mendengar keluh kesah kaum dhuafa, menyerap aspirasi wong cilik.
B. Jurnalisme dan "Amplop Bias"
Pada duamilist institusi wartawan yang berbeda tertera ‘undangan mengambil THR’ di salah satu instansi pemerintah.Tentu saja ada yang tertawa senang, ada yang mencibir dengan geram, ada yang mengkritik.Pun, tentu saja ada yang menyambutnya.Singkat kata di dua milist tersebut terjadi pro dan kontra.Inti dari isi milist tersebut adalah institusi pemerintah tersebut menyediakan THR untuk wartawan yang bertugas atau sehari-hari meliput kegiatan di institusi pemerintah itu.
Pengusaha media adalah pengusaha yang bukan orang sabar dalam berinvestigasi jangka panjang tetapi yang mencari keuntungan secepatnya dengan memanfaatkan kedekatan dengan kekuasaan.Dekat dengan kekuasaan dekat dengan sumber dana/keuangan. Untuk dekat kekuasaan politik perlu memiliki dalam bentuk kekuasaan lain. Hari ini, kekuasaan lain yang sangat kuat adalah media. Oleh sebab itu jika kekuasaan politik dengan kekuasaan media bersatu, bersinergis, maka uang dengan sendirinya akan mengalir. Inilah rumus sederhana pengusaha media.
C. Jurnalisme dan Budaya Copy Paste
Pada satu waktu, sekelompok wartawan media cetak yang biasa meliput berita kriminal di Ibukota jengkel terhadap teman mereka yang sombong. Mentang-mentang dari media besar dan mengklaim sebagai pemimpin pasar, wartawan itu tidak pernah berbagi informasi dengan teman-temannya tentang berita yang diperolehnya. Oleh sebab itu, teman-temannya sepakat untuk mengerjai atau memberi pelajaran bagi wartawan yang belagu tersebut.
Kehadiran teknologi komunikasi dan informasi serta teknologi transportasi menyebabkan percepatan dan kecepatan dalam segala hal termasuk dalam dunia jurnalisme, khususnya berkaitan dengan produk berita di berbagai media.Komunikasi dan informasi berkembang kearah pengelembungan, yang menciptakan masyarakat kegemukan; kegemukan informasi, komunikasi, tontonan, berita dan data.
Dalam konteks jurnalisme, misalnhya, percepatan dan kecepatan produksi berita telah mengubah alur berita dan kinerja bagi kru redaksi dan hasil berita bagi masyarkat.Pertumbuhan media online atau situs berita bak jamur di musim hujan telah memunculkan masalah baru.Problem tersebut kemudian menjadi penyakit kronis yang kini mulai membudaya dalam jurnalisme, yakni budaya salin dan tempel (copy paste).
D. Jurnalisme Pembuat Heboh
Menurut Burhan Bungin, ada empat tahapan kelahiran konstruksi social media massa. Yaitu, penyiapan materi konstruksi, sebaran konstruksi, pembentukan konstruksi realitas, dan konfirmasi.Dalam konteks hari ini, kehadiran dan penggunaan internet yang sangat massif dan mengglobal, penulis memandang sebagai datangnya sebuah era baru.Setiap individu bisa menciptakan realitas sendiri. Ke depan bukan hanya institusi media yang membuat heboh, tetapi kita pun bisa membuat heboh sendiri.
Oleh sebab itu, kehadiran internet harus diterima dengan afirmasi kritis.Penciptaan dan perkembangan isu di dunia maya harus tetap dipandang dengan landasan etika.Hanya dengan begitu internet berdaya guna salah satunya – membangun keterbukaan informasi untuk publik.
E. Jurnalisme Tanpa Konfirmasi
Ketika ditetapkan tersangka dalam kasus sisminbakum, Kementrian kehakiman dan ham, mantan mentri kehakiman dna ham yusril ihza mahendra mengeluhkan adanya pembunuhan karakter dan massa depan karier politiknya. Dalam pandangan yusril, tudingan korupsi di era reformasi mirip seperti tudingan keterlibatan dalam partai komunis indonesia (pki) ketika di era orde baru. Dalam catatan indonesia indikator, sepanjang tahun ini, setiap bulannya tidak pernah sepi dari pemberitaan tentang korupsi. Dalam konteks itu lah sesungguhnya korupsi sebagai agenda setting tersendiri dari masing - masing media. Teorisme kerpa disandingkan atau diidentikan dengan radikalisme dan fundamentalisme, dan agama berdiri sendiri tanpa keterkaitan apapun. Medialah yang mempopulerkan , mendekatkan , bahkan menautkannya sehingga menjadi kesadaran benak publik. Bahwa terorisme berkaitan dengan agama. Inilah dosa media yang membuat fakta dan fiksi tentang terorisme sangat kabur batasannya Jean Baudrillard menyebutnya dengan istilah Hyperreality.
F. Jurnalisme, Adakah Etika?
Sekali lagi etika jurnalistik karena hasil kreasi manusia masih perlu diperbedakan, termasuk keberpihakan terhadap kandidat tertentu dalam kontestasi politik. Bahkan, etika dalam beberapa perspektif tergantung yang mempergunakan. Hal ini pula yang sedang terjadi pada jurnalismeonline, yang secara kasat mata sudah mengubah tradisi jurnalisme tradisional.Secara filosofis, jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran, independensi, check dan balance, cover all sides, verifikasi fakta, dan keberpihakan pada yang lemah. Etika jurnaisme berfungsi berfungsi untuk menjamin media memproduksi jurnalisme yang berkualitas dan publik pun mendapat informasi yang sehat dan mencerahkan.
Penyebab Keruntuhan Jurnalisme
A. Postmodernisme
Masyarakat postmodernisme adalah masyarakat yang secara finansial, pengetahuan, relasi, dan semua prasyarat masyarakat modern terlampaui. Artinya gejala postmodernisme muncul di berbagai belahan dunia jika masyarakatnya sudah memiliki keterpenuhan material, namun ia kering dari sudut kekayaan batin seperti dikemukakan Burhan Bungin di muka. Karena modernisme berpilarkan rasio, ilmu, dan antropomorphisme.
Dalam catatan Pauline M. Rosenau ada lima alasan mengapa terjadi krisis dalam modernisme. Pertama, modernisme dinilai tidak bisa menghadirkan kehidupan masa depan kehidupan yang lebih baik seperti yang digambar-gambarkan para penganut sejatinya. Kedua, adanya kesewenang-wenangan dalam mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk melanggengkan kekuasaan.Ketiga, banyak pertentangan tajam antara teori dan fakta dalam kaidah ilmu pengetahuan.Keempat, ilmu pengetahuan dan teknologi gagal memecahkan problematika kemanusiaan.Kelima, aspek mistis dan metafisika terabaikan karena memberi perhatian lebih kepada dimensi fisik.
Secara sederhana ajaran pokok postmodernisme terdiri dari pertama menolak universalitas.Kedua, menolak ideologi.Ketiga, menolak obyektifikasi.Keempat, mengkritik semua jenis sumber pengetahuan.Kelima, menolak metodologi yang tetap dan pasti.
B. Cultural Studies
Futurolog Ziauddin Sardar mencatat lima karakter utama cultural studies, yaitu;
1.Kultural bertujuan meneliti subyek masalah di sekitar praktik budaya dan hubungannya terhadap kekuasaan.
2.Memiliki tujuan obyektif dalam memahami buadaya dan bentuk-bentuknya yang kompleks dan menganalisis konteks social dan politik di mana budaya itu sendiri terwujud.
3. Obyek studi dan posisinya adalah kritismedan aksi.
4. Berusaha membuka dan rekonsiliasi terhadap pengetahuan budaya dan bentuk obyektif pengetahuan.
5. Memiliki komitmen pada evaluasi etnik masyarakat social dan aksi politis barisan radikal.
Kajian cultural studies berfokus pada pesan aktual atau wacana komunikasi. Focus cultural studies adalah representasi secara atau bagaimana dunia dikonstruksi dan direpresentasi secara sosial oleh dan kepada kita.
BAB III
Kemunculan Jurnalisme Baru
A. Jurnalisme dan Citizen Journalism
Sekali lagi kemajuan teknologi komunikasi dan informasi memberikan kemajuan dalam salah satu aspek kehidupan manusia, khususnya dalam berbagi informasi sesame anak manusia.Melalui internet, kini, semua orang bisa menjadi wartawan. J.D. Lasica, memaparkan jurnalisme warga ke dalam lima tipe. Yaitu, situs web berita atau informasi independen, situs berita partisipatoris murni, situs media kolaboratif, bentuk lain dari media tipis, dan situs penyiaran pribadi.
B. Jurnalisme dan Ideologi
Dalam ideologi terdapat tiga aspek.Yaitu, sebagai sitem kepercayaan, proyeksi social, dan relasi social. Sebagai system kepercayaan, ideologi bersemayam pada setiap individu, termasuk wartawan(reporter dan editor), semua kru redaksi, dan pemilik media.
C. Jurnalisme dan Konvergensi Media
Konvergensi adalah perubahan teknologi, industry, budaya, dan social dalam lingkaran media termasuk di dalamnya budaya kita. Beberapa gagasan mendasar dari konvergensi antara lain konten media mengalir ke beberapa platform media yang berbeda. Dengan teknologi internet, kini semua aspek kehidupan berawalan dengan e sebagai kependekan atau simbol dari elektronik. Dengan kata lain internet yang semula diprediksi menjadi hantu penghancur media cetak, kini justru menjadi dewa penyelamat. Berarti digitalisasi media cetak adalah salah satu bentuk konvergensi media.
D. Jurnalisme dan Krisis Berita
Media utama harus mengubah kesetiaan pembaca dan pemirsa yang menginginkan metode pengiriman informasi yang lebih langsung. Setiap generasi penerus akan menghasilkan dan menyerap lebih banyak informasi dari pada pendahulunya. Warga makin tidak sabar dengan media yang tak bisa mengejar kecepatan yang dihendaki mereka.
E. Jurnalisme dan Media Baru
Dalam pemetaan perubahan jurnalistik, kita dapat melihat tiga tingkat yang berbeda. Yaitu,tingkat organisasi media, dimana kita bisa melacak perubahan dalam cara di mana jurnalisme diproduksi dalam lingkungan online yang lebih luas perubahan yang terjadi pada organisasi tingkat. Kedua, tingkat isi berita, dimana kita dapat mengamati perubahan dalam cara-cara yang isinya terstruktur.Terakhir, tingkat masyarakat, di mana kita dapat melihat pola pertubuhan konsumsi berita.
Hubungan antara internet dan jurnalisme pasti tampaknya menjadi satu masalah.Di satu sisi kita menemukan internet menampilkan sebagai katalis jika bukan penyebab yang sangat kritis (waktu, uang, dan perubahan budaya) semua karena munculnya media baru.Pada saat yang bersamaan, internet tampaknya telah memasuki babak baru, hubungan langsung antara orang dan berita, serta antara manusia dan politik.
F. Jurnalisme dan Pencarian Core Mining
Komunikasi mengenal dua madzhab. Yakni, aliran penyampaian pesan (madzhab transmisi) dan aliran pertukaran makna (madzhab semiotika). Aliran penyampaian pesan adalah yang tertua. Elemen komunikasi lain pada madzhab peyampaian pesan ini adalah media, noise, feedback, dan sebagainya.
Pernyataan adalah bagaimana jurnalisme sebagai author memberikan konstruksi tanda kepada reader sehingga tercipatanya makna di antara keduanya. Makna hanya akan tercipta jika ada hubungan antara pengarang dan pembaca. Dengan demikian makna dalam jurnalisme, Khususnya berita, akan terjadi jika pengarang dan pembaca memiliki kesamaan teks budaya.
G. Jurnalisme dan Pertukaran Makna
Salah satu bentuk interaksi adalah melalui bahasa tulisan dalam media cetak yang dikenal dengan nama berita. Berita yang semula merupakan fakta yang dirangkai secara pribadi dalam institusi media karena dipublikasikan melalui media cetak ia menimbulkan makna bagi orang lain. Oleh sebab itu, bahasa dalam bentuk berita tidak bebas nilai. Ia dikonstruksi dan dan mengkonstruksi maknanya tertentu tergantung orang yang membuat dan membacanya.
H. Jurnalisme Interpretatif
Ada tiga pertimbangan sebuah peristiwa menjadi berita di surat kabar, yaitu ideologis, politis, dan bisnis. Pertimbangan ideologis terjadi karena factor pemilik atau nilai-nilai yang dihayatinya.Pertimbangan politis berangkat dari kenyataan bahwa pers tidak terlepas dari kehidupan politik.Sedangkan kepentingan bisnis berkaitan dengan pemasukan dari iklan.Ketiga pertimbangan itu juga berpengaruh pada sudut pandang berita.Di sinilah kebijakan redaksinya—biasanya melalui rapat proyeksi atau bujet berita—menentukan arah sebuah berita.Makanya tidak ada berita yang netral, tuna ideologi, dan tanpa kepentingan.Sebab berita, seperti produk media lain, merupakan hasil seleksi dan rekonstruksi.
Semua yang disajikan media kepada khalayak memiliki ideologi, mengandung kepentingan, dan nilai dari lembaga dari media tersebut.Muatan ideologi dan kepentingan tersebut ditransformasi dalam bentuk berita.
I. Jurnalisme, Agama, dan Pertanggungjawaban
Indonesia bukan negara sekuler. Pun, tidak menganut negara agama. Di negeri ini tidak ada agama yang diakui atau dinafikan.Semuanya boleh hidup selama menyebarkan kedamaian dan perdamaian.Semua orang boleh hidup di negeri ini dengan ketentuan mutlak mengakui Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945.
Penulis ingin menegaskan bahwa dalam konteks Indonesia, pers atau media tidak hanya bertanggung jawab untuk menaati kode etik jurnalistik sebagai standar profesionalisme, tetapi juga harus memihak pada nilai agama yang dianutnya. Artinya, selain ada pertanggungjawaban di dunia, pekerja pers negeri ini harus meyakini bahwa mereka juga akan diminta pertanggungjawaban di akhirat, kelak. Inilah karakter sesungguhnya pers Indonesia.

Komentar
Posting Komentar